Indonesia dan Presiden ke-7

3577335696.jpg 

Bangsaku, Indonesia…
Tahun 2009 mendatang merupakan tahun penting bagi bangsa ini. Sebuah perhelatan besar yang akan melibatkan 150 juta orang untuk memilih seorang pemimpin negeri. PEMILU 2009 di depan mata menyuguhkan polemik 5 tahunan mengenai persyaratan calon presiden. Menurut pasal 6 UU No.23 tahun 2003 bahwa seorang calon presiden harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu mampu secara jasmani dan rohani untuk menjalankan tugas dan kewajibannya, tidak melakukan perbuatan tercela, usia sekurang-kurangnya 35 tahun, berpendidikan minimal SLTA atau sederajat dan tidak pernah dijatuhi pidana penjara.

Saat ini para politisi dari berbagai parpol tengah meributkan revisi kriteria capres mulai dari syarat kesehatan rohani dan jasmani yang pada akhirnya sudah jelas ingin menggugurkan kandidat tertentu, kemudian ada usulan mengenai pendidikan yang minimal harus S1 yang juga sudah jelas ingin menjegal kandidat lain, adapula yang menginginkan seorang kandidat presiden tidak boleh mencicipi duduk dikursi terdakwa yang lagi-lagi tujuannya untuk melengserkan kandidat kuat lainnya. Kalau boleh saya tambahkan, saya ingin calon presiden haruslah laki-laki yang memiliki seorang istri, bagaimana? Terdengar ingin merontokkan beberapa kandidat secara langsung bukan?

Dasarnya saya tidak punya kandidat yang sepenuhnya ingin saya dukung mengingat beberapa calon kuat hanya pemain lama yang sudah terusir dari kursi kepresidenan di musim sebelumnya. Menurut saya seorang calon yang sudah jelas pernah memimpin namun gagal dalam menjalankan tugas tak semestinya dipilih lagi. Jangan sampai bangsa kita menghadapi repetisi sejarah buruk yang terus berlangsung di negeri ini.

Dari seorang orator dan negarawan serta para nasionalis negeri ini mulai berdiri, pondasi dan ideologi ditulis oleh para ahli bahasa sehingga terdengar indah namun banyak celah. Seorang orator digulingkan oleh seorang tentara yang memiliki ambisi setinggi langit. Dengan gaya diktator beliau membangun negeri melahirkan seekor macan asia yang sekaligus meninabobokkan macan itu 32 tahun kemudian. Seorang akademisi terpaksa mengambil alih kepemimpinan dan menjadikan negeri ini sebagai sebuah laboratorium raksasa ilmu politik dan hasil percobaannya membuat satu wilayah memproklamirkan diri menjadi satu bangsa,

Seorang agamais mendapat angin reformasi membuat bingung bangsa sendiri dengan kebijakan politiknya, menjajaki kemungkinan kerja sama dengan para komunis, sosialis dan zeonis? sangat berbeda dengan iklim politik yang biasa menaungi negeri ini. Beliaupun terusir dari istana negara, dengan celana pendek ia tertatih dipapah para pengurusnya. Seorang perempuan keturunan Sang Orator mengambil alih kepemimpinan. Apa yang terjadi? Negeri ini sepenuhnya menjadi negeri matador, satu pertunjukkan tunggal dengan para penonton yang tidak ingin menonton. Seorang tentara lain terpilih menjadi pemimpin, jauh berbeda dengan tentara sebelumnya. Bila yang satu diktaktor maka yang lain seolah-olah ditekan dari berbagai arah sehingga pedangnya tumpul tak mampu bertarung sendiri hingga hari ini.

Apa yang bisa kita pelajri dari sejarah adalah para pemimpin baik yang pernah maupun yang belum terpilih hendaklah mulai berbenah diri agar tidak terlalu mencintai kekuasaan, tidak lembek, tidak memihak golongan, dia harus mampu berdiri sendiri tanpa harus dipapah, mampu melihat sendiri tanpa perlu dibisiki, mampu mendengar sendiri tanpa perantara dan mampu mengendalikan rakyatnya tanpa pedang dan bedil. Seorang pemimpin harus bisa melihat mimpi setiap rakyatnya dan menjadikan mimpi-mimpi itu sebagai mimpinya dan berjuang mewujudkan mimpinya menjadi suatu realita. Akhir kata, saya menyerukan kepada rakyat Indonesia memilih pemimpin yang memang mamiliki kapasitas memimpin tanpa terpengaruh rupiah, artis-artis dan seragam parpol yang terus merayu. Jangan sampai kita menjadi bangsa celaka karena memilih pemimpin yang salah. Kahlil Gibran pernah menulis:

Sungguh celaka bangsa yang tak memiliki agama sekalipun dijual-beli oleh kepercayaan-kepercayaan. Sungguh nista bangsa yang mengagungkan orang dzalim laiknya pahlawan dan menyanjung penjajah sebagai bangsa yang berkuasa perkasa. Sungguh rendah bangsa yang melecehkan ambisi mimpi-mimpi tetapi terkulai lemas tatkala terjaga.

betapa celaka bangsa yang tak brani menyampaikan kata-katanya sendiri kecuali bila tengah bergandengan mesra dengan liang kubur. Bangsa yang tak menyimpan kebanggaan kecuali ketika sedang tengkurap diantara puing-puing keruntuhannya. Bangsa yang tidak menggeliat bangkit kecuali manakala batang lehernya telah dikalungi oleh mata pedang dan tempat pemancungan.

Celakalah bangsa yang memiliki negarawan berupa seekor serigala, yang memiliki filosof berupa para penipu dan memiliki karya seni berupa tiruan-tiruan. Betapa malangnya bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan mengumandangkan tiupan-tiupan terompet, lalu menangis penuh duka waktu mengucapkan selamat tinggal padanya, tetapi kemudian menyambut penguasa baru penggantinya dengan tiupan-tiupan terompet yang sama. Celaka benar bangsa yang memiliki kaum cendekiawan yang bertahun-tahun tumpul telinganya dan orang-orang kuatnya masih mengeram dalam kereta-kereta bayi.

Celakalah sebuah bangsa yang terbelah-belah dalam bagian-bagian wilayah, dan setiap bagiannya memproklamasikan dirinya sebagai suatu bangsa.
(The Treasured Writings of Kahlil Gibran)

Adakah kita semakin mendekat dengan bangsa yang celaka?

3 Tanggapan to this post.

  1. Posted by Jupli on Maret 21, 2008 at 10:59 pm

    Kalo menurut saya, kualifikasi kepemimpinan itu gak bisa diukur hanya dalam lima tahun atau satu periode kepemimpinan, bukannya berkiblat pada amerika atau inggris tapi pemimpin negara tersebut sudah berkarat dikursinya baru menunjukkan keberhasilan. Almarhum Pak Harto juga begitukan? ;-)

  2. Mengenai presiden RI ke-7 ini sebenernya sudah diramalkan oleh ki ronggowarsito sebelum abad ke-20. Iyalah yang disebut sebagai satrio pinandito sinisihan wahyu. Siapakah dia saat ini. Itulah yang kita tunggu-tunggu untuk tampil kemuka memimpin bangsa Indonesia keluar dari keterpurukan. Kita sambut kedatangannya dengan kepatuhan dan segenap bantuan.

  3. presiden RI ke-7 sebagai satrio pinandito sinisihan wahyu Kalo menurut saya, Baru Muncul pada pemilu 2014

Tanggapi posting ini