Gw mau cerita soal penelitian gw. Jadi saat ini gw sedang sibuk ngurusin caisim-caisim gw yang lagi lucu-lucunya itu. Fokus penelitian gw adalah pupuk hayati. Pupuk hayati adalah pupuk yang mengandung mikroba bermanfaat bagi tanaman dalam menambat unsur yang dibutuhkannya dalam proses pertumbuhan dan produksi. Gw meneliti 3 macam pupuk hayati yang sudah ada dipasaran, ketiga pupuk ini masih dalam proses isolasi dan penghitungan populasi tapi secara keseluruhan ketiga pupuk ini memiliki kandungan mikroba bermanfaat yang cukup tinggi.
Gw gak bakal menuliskan nama ketiga pupuk ini karena faktor yang bisa anda pikirkan sendiri. Ada beberapa poin yang pengen gw bagi, poin yang gw dapet selama penelitian yaitu 1. Masalah pupuk anorganik seperti Urea, SP36 dab KCl. Ini masalah basi yang seharusnya sudah dibereskan oleh pemerintah. Masalah pupuk palsu, tahukah anda kalo sebagian besar pupuk KCl dipasaran adalah palsu? padahal KCl yang paling mahal diantara ketiga pupuk dasar ini. Ada cara uji cepat untuk tahu KCl yang baik yaitu dengan cara melarutkan KCl dalam air. Bila larut dengan baik berarti pupuk tersebut mengandung K2O yang tinggi (mendekati 60%). Bagaimana dengan pupuk yang lain? Harus uji lab untuk tahu kandungannya. Kalo dulu cara membedakan pupuk asli dengan yang aspal ataupun palsu cukup mudah, cukup dengan harga, bila harga tinggi berarti asli dan sebaliknya. Namun yang terjadi saat ini adalah harga pupuk ini baik asli maupun palsu sama tingginya. Tanah di Indonesia sebagian besar miskin hara, kalau tidak dipupuk maka produksi rendah, bila dipupuk dengan pupuk palsu atau pupuk aspal (kandungan hara rendah) maka pengaruhnya tidak akan signifikan jadi dalam jangka 3 tahun kedepan gw yakin negara ini masih terus import beras. Dan akan terus berlanjut bila usaha pemerintah dalam hal ini mandul terus.
Sebagian besar tanh di Indonesia merupakan tanah masam. Maka tanah perlu dikapur agar tanaman pangan yang biasanya tumbuh pada pH sekitar netral dapat berproduksi optimum. Apa masalahnya? Kapur dipasaran kebanyakan bernilai DN rendah. DN=Daya netralisasi yaitu kemampuan menetralkan asam, kabanyakn DN kapur yang beredar hanya sekitar 20-50 saja. Berarti semakin kecil nilai DN maka semakin rendah kemampuan kapur untuk meningkatkan pH dan hal ini berimbas pada pemakaian kapur yang lebih tinggi sehingga biaya produksipun tinggi. Bila biaya produksi tinggi maka harga jualpun akan sangat tinggi dan mengakibatkan masyarakat akan memilih membeli barang import yang harganya cendrumg lebih rendah.
Masalah terakhir adalah uang. Untuk meningkatkan produksi bahan pangan diperlukan riset hingga penyuluhan yang memakan banyak waktu dan uang, bila tidak ada uang (ada tapi dikorupsi) maka lebih baik import saja. Dengan kata lain, saya meragukan pertanian Indonesia bisa maju dan bisa swasembada lagi seperti zaman dahulu kala. Bisa sich dengan catatan presiden tetap orang yang sama selama 10-20 tahun agar kebijakan di bidang ini tidak banyak berubah. Pusing kalo sudah kisruh begini, padahal baru sebatas pupuk dan kapur, belum bibit, air, lahan, hama dan blah…blah…blah lainnya.

Posted by Sigit Sapto Wibowo on April 12, 2008 at 4:00 pm
Saya baru melaksanakan kegiatan Forum Penyuluhan Pertanian Pedesaan (FP-3) di Desa Mekarsari, Kab. Kubu Raya, Kalimantan Barat. Salah satu masalah utama yang dihadapi memang pupuk. Urea di tangan petani sudah mencapai Rp.2.500/kg, SP-36 seharga Rp.4.000, termahal KCl mencapai Rp.10.000/kg. Padahal wilayah tersebut lahan pasang surut bergambut sehingga pH tanah 3,5-4,5. Petaninya miskin karena korban kerusuhan etnis di Kabupaten Sambas yang mampunya hanya beli urea 20 kg/ha sehingga produktivitas padinya cuma 1 ton/ha. Bandingkan dengan hasil penelitian yang dapat mencapai 7-9 ton/ha padahal lokasinya cuma 40 km dari Pontianak. Gimana dengan mereka yang tinggal di pedalaman Kalbar yang jaraknya 500 km dari Pontianak. Saya sependapat Indonesia akan mengimpor beras lagi dalam jangka 5-10 tahun kedepan. Saya pun sependapat presiden jangan ganti dulu sampai program pemberdayaan masyarakat tercapai karena visi, misi, dan programnya tidak ganti. Itulah sebabnya saya keliling desa menyelenggarakan penyuluhan pertanian dan salah satunya memperkenalkan berbagai teknologi membuat pupuk organik. Minggu ini saya melatih membuat pupuk Kalium cair dari bahan limbah kelapa dan jerami plus terasi dan ragi dengan cara sederhana. Saya menggalakkan pembuatan biogas dari drum plastik agar murah memperoleh gas untuk masak dan sludge nya dapat langsung dipakai untuk pupuk. Saya juga menyebarkan cara mengolah sampah organik menggunakan dekomposes Trichoderma sp. Kalau di daerah pantai yang banyak kelapanya saya pakai nira kelapa untuk pengganti EM-4. Saya baru melakukan analisa pupuk organik dari limbah sawit ternyata kandungan K2O tinggi mencapai 12,59 %. Masalah yang kami hadapi di Kalbar : bukan hanya tanahnya marginal tapi mau pakai kapur harganya mahal. Pakai pupuk bukan sekedar harganya mahal sering tidak tersedia di pasaran. Makanya saya berkeras : manfaatkan pupuk organik dari bahan limbah di sekitar kita termasuk night soil.
Posted by alin on April 12, 2008 at 7:40 pm
Wah mas/pak sigit, saya gak nyangka kalo harga pupuk bisa setinggi itu disana, kemarin (di bogor) saya beli KCl 6000/kg rasanya sudah kemahalan, untung kadar K2O nya tinggi. Kalo hanya 1 ton/ha berarti sangat rendah ya, bisa dibilang petani disana sangat merugi. Skala laboratorium di Indonesia baru bisa mencapai 7-9 ton/ha sementara di luar sana skala lapang bisa mencapai 14 ton. Berarti pertanian kita tertinggal terlalu jauh ditambah lagi kebijakan pemerintah yang sangat tidak fokus. Contoh kasus penanaman jarak berhektar-hektar untuk biodisel yang pada kenyataannya malah membunuh petani, menanam tanaman pangan serugi-ruginya bisa dimakan sendiri, nah biji jarak???
Pemakaian urea 20 kg/ha berarti hanya 1/10 dosis pupuk nasional, kalo metode aplikasinya tepat mungkin masih berpengaruh pada tanaman tapi kalo metodenya salah maka dosis itu bisa dibilang tidak ada, belum lagi kalo pupuknya aspal. Kalo didaerah bergambut berarti harus sangat berhati-hati dengan lapisan sulfidik dan keracunan Al, sebisa mungkin lapisan gambut jangan sampai hilang. Penggunaan bahan-bahan organik sebagai pupuk (termasuk night soil-walopun banyak yang kontra) saya rasa juga merupakan satu-satunya cara untuk memecahkan kebuntuan pupuk anorganik ini, penggunaan pupuk hayati juga mungkin bisa diaplikasikan (lebih efektif kalo pH bisa dinaikkan). Begitulah… Saya hanya bisa memberi semangat pada mas sigit dkk untuk terus memperjuangkan pertanian kita, merdeka!