<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Tanggapan pada: Mulai Memikirkan Pertanian Indonesia</title>
	<atom:link href="http://alinananty.wordpress.com/2008/04/09/mulai-memikirkan-pertanian-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alinananty.wordpress.com/2008/04/09/mulai-memikirkan-pertanian-indonesia/</link>
	<description>jangan baca kalo gampang percaya!!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Nov 2009 05:46:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: alin</title>
		<link>http://alinananty.wordpress.com/2008/04/09/mulai-memikirkan-pertanian-indonesia/#comment-143</link>
		<dc:creator>alin</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 12:40:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://alinananty.wordpress.com/2008/04/09/mulai-memikirkan-pertanian-indonesia/#comment-143</guid>
		<description>Wah mas/pak sigit, saya gak nyangka kalo harga pupuk bisa setinggi itu disana, kemarin (di bogor) saya beli KCl 6000/kg rasanya sudah kemahalan, untung kadar K2O nya tinggi. Kalo hanya 1 ton/ha berarti sangat rendah ya, bisa dibilang petani disana sangat merugi. Skala laboratorium di Indonesia baru bisa mencapai 7-9 ton/ha sementara di luar sana skala lapang bisa mencapai 14 ton. Berarti pertanian kita tertinggal terlalu jauh ditambah lagi kebijakan pemerintah yang sangat tidak fokus. Contoh kasus penanaman jarak berhektar-hektar untuk biodisel yang pada kenyataannya malah membunuh petani, menanam tanaman pangan serugi-ruginya bisa dimakan sendiri, nah biji jarak???

Pemakaian urea 20 kg/ha berarti hanya 1/10 dosis pupuk nasional, kalo metode aplikasinya tepat mungkin masih berpengaruh pada tanaman tapi kalo metodenya salah maka dosis itu bisa dibilang tidak ada, belum lagi kalo pupuknya aspal. Kalo didaerah bergambut berarti harus sangat berhati-hati dengan lapisan sulfidik dan keracunan Al, sebisa mungkin lapisan gambut jangan sampai hilang. Penggunaan bahan-bahan organik sebagai pupuk (termasuk night soil-walopun banyak yang kontra) saya rasa juga merupakan satu-satunya cara untuk memecahkan kebuntuan pupuk anorganik ini, penggunaan pupuk hayati juga mungkin bisa diaplikasikan (lebih efektif kalo pH bisa dinaikkan). Begitulah... Saya hanya bisa memberi semangat pada mas sigit dkk untuk terus memperjuangkan pertanian kita, merdeka!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah mas/pak sigit, saya gak nyangka kalo harga pupuk bisa setinggi itu disana, kemarin (di bogor) saya beli KCl 6000/kg rasanya sudah kemahalan, untung kadar K2O nya tinggi. Kalo hanya 1 ton/ha berarti sangat rendah ya, bisa dibilang petani disana sangat merugi. Skala laboratorium di Indonesia baru bisa mencapai 7-9 ton/ha sementara di luar sana skala lapang bisa mencapai 14 ton. Berarti pertanian kita tertinggal terlalu jauh ditambah lagi kebijakan pemerintah yang sangat tidak fokus. Contoh kasus penanaman jarak berhektar-hektar untuk biodisel yang pada kenyataannya malah membunuh petani, menanam tanaman pangan serugi-ruginya bisa dimakan sendiri, nah biji jarak???</p>
<p>Pemakaian urea 20 kg/ha berarti hanya 1/10 dosis pupuk nasional, kalo metode aplikasinya tepat mungkin masih berpengaruh pada tanaman tapi kalo metodenya salah maka dosis itu bisa dibilang tidak ada, belum lagi kalo pupuknya aspal. Kalo didaerah bergambut berarti harus sangat berhati-hati dengan lapisan sulfidik dan keracunan Al, sebisa mungkin lapisan gambut jangan sampai hilang. Penggunaan bahan-bahan organik sebagai pupuk (termasuk night soil-walopun banyak yang kontra) saya rasa juga merupakan satu-satunya cara untuk memecahkan kebuntuan pupuk anorganik ini, penggunaan pupuk hayati juga mungkin bisa diaplikasikan (lebih efektif kalo pH bisa dinaikkan). Begitulah&#8230; Saya hanya bisa memberi semangat pada mas sigit dkk untuk terus memperjuangkan pertanian kita, merdeka!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sigit Sapto Wibowo</title>
		<link>http://alinananty.wordpress.com/2008/04/09/mulai-memikirkan-pertanian-indonesia/#comment-142</link>
		<dc:creator>Sigit Sapto Wibowo</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 09:00:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://alinananty.wordpress.com/2008/04/09/mulai-memikirkan-pertanian-indonesia/#comment-142</guid>
		<description>Saya baru melaksanakan kegiatan Forum Penyuluhan Pertanian Pedesaan (FP-3) di Desa Mekarsari, Kab. Kubu Raya, Kalimantan Barat.  Salah satu masalah utama yang dihadapi memang pupuk.  Urea di tangan petani sudah mencapai Rp.2.500/kg, SP-36 seharga Rp.4.000, termahal KCl mencapai Rp.10.000/kg.  Padahal wilayah tersebut lahan pasang surut bergambut sehingga pH tanah 3,5-4,5.  Petaninya miskin karena korban kerusuhan etnis di Kabupaten Sambas yang mampunya hanya beli urea 20 kg/ha sehingga produktivitas padinya cuma 1 ton/ha.  Bandingkan dengan hasil penelitian yang dapat mencapai 7-9 ton/ha padahal lokasinya cuma 40 km dari Pontianak.  Gimana dengan mereka yang tinggal di pedalaman Kalbar yang jaraknya 500 km dari Pontianak.  Saya sependapat Indonesia akan mengimpor beras lagi dalam jangka 5-10 tahun kedepan.  Saya pun sependapat presiden jangan ganti dulu sampai program pemberdayaan masyarakat tercapai karena visi, misi, dan programnya tidak ganti.  Itulah sebabnya saya keliling desa menyelenggarakan penyuluhan pertanian dan salah satunya memperkenalkan berbagai teknologi membuat pupuk organik. Minggu ini saya melatih membuat pupuk Kalium cair dari bahan limbah kelapa dan jerami plus terasi dan ragi dengan cara sederhana.  Saya menggalakkan pembuatan biogas dari drum plastik agar murah memperoleh gas untuk masak dan sludge nya dapat langsung dipakai untuk pupuk.  Saya juga menyebarkan cara mengolah sampah organik menggunakan dekomposes Trichoderma sp.  Kalau di daerah pantai yang banyak kelapanya saya pakai nira kelapa untuk pengganti EM-4.  Saya baru melakukan analisa pupuk organik dari limbah sawit ternyata kandungan K2O tinggi mencapai 12,59 %.   Masalah yang kami hadapi di Kalbar : bukan hanya tanahnya marginal tapi mau pakai kapur harganya mahal.  Pakai pupuk bukan sekedar harganya mahal sering tidak tersedia di pasaran.  Makanya saya berkeras : manfaatkan pupuk organik dari bahan limbah di sekitar kita termasuk night soil.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya baru melaksanakan kegiatan Forum Penyuluhan Pertanian Pedesaan (FP-3) di Desa Mekarsari, Kab. Kubu Raya, Kalimantan Barat.  Salah satu masalah utama yang dihadapi memang pupuk.  Urea di tangan petani sudah mencapai Rp.2.500/kg, SP-36 seharga Rp.4.000, termahal KCl mencapai Rp.10.000/kg.  Padahal wilayah tersebut lahan pasang surut bergambut sehingga pH tanah 3,5-4,5.  Petaninya miskin karena korban kerusuhan etnis di Kabupaten Sambas yang mampunya hanya beli urea 20 kg/ha sehingga produktivitas padinya cuma 1 ton/ha.  Bandingkan dengan hasil penelitian yang dapat mencapai 7-9 ton/ha padahal lokasinya cuma 40 km dari Pontianak.  Gimana dengan mereka yang tinggal di pedalaman Kalbar yang jaraknya 500 km dari Pontianak.  Saya sependapat Indonesia akan mengimpor beras lagi dalam jangka 5-10 tahun kedepan.  Saya pun sependapat presiden jangan ganti dulu sampai program pemberdayaan masyarakat tercapai karena visi, misi, dan programnya tidak ganti.  Itulah sebabnya saya keliling desa menyelenggarakan penyuluhan pertanian dan salah satunya memperkenalkan berbagai teknologi membuat pupuk organik. Minggu ini saya melatih membuat pupuk Kalium cair dari bahan limbah kelapa dan jerami plus terasi dan ragi dengan cara sederhana.  Saya menggalakkan pembuatan biogas dari drum plastik agar murah memperoleh gas untuk masak dan sludge nya dapat langsung dipakai untuk pupuk.  Saya juga menyebarkan cara mengolah sampah organik menggunakan dekomposes Trichoderma sp.  Kalau di daerah pantai yang banyak kelapanya saya pakai nira kelapa untuk pengganti EM-4.  Saya baru melakukan analisa pupuk organik dari limbah sawit ternyata kandungan K2O tinggi mencapai 12,59 %.   Masalah yang kami hadapi di Kalbar : bukan hanya tanahnya marginal tapi mau pakai kapur harganya mahal.  Pakai pupuk bukan sekedar harganya mahal sering tidak tersedia di pasaran.  Makanya saya berkeras : manfaatkan pupuk organik dari bahan limbah di sekitar kita termasuk night soil.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
