Beberapa hari yang lalu gw keliling bogor jalan kaki, naik motor, naik angkot, naik bus. Dan semuanya disappointed-kecewa aku.
Perjalanan pertama jalan kaki. Sepanjang jalan (trotoar) banyak sampah padahal ya yang namanya tong sampah sepanjang pajajaran teh buanyak mulai dari drum sampe kotak plastik biru kuning tapi tetep aja sampah berenang di got, bergelingan dijalan dan bergerombol disetiap pojokan seolah-olah tak kasat mata.
Trip 2, naik angkot. Ada anak SMP, laki-laki makan gorengan dan minum air mineral gelas. Makan dengan suara mengecap yang sangat tidak sopan, gorengannya habis dan bungkusnya dibuang lewat jandela angkot dan berakhir di pinggiran jalan merdeka, lalu dia minum dari gelas air mineralnya samai habis dan membuang gelasnya lewat jendela angkot dan gelas plastik itupun menghiasi gerbang masuk hotel salak dan iapun mengakhiri kebejatan moralnya dengan suara sendawa yang erghh… Gw mau kasih masukan ke diknas, seharusnya semua sekolah mewajibkan siswanya mengenakan lokasi di setiap seragam. Kalo gw tau tu bocah sekolah dimana udah gw tulis di sini nama sekolahnya! Sekalian nama orang tuanya kalo perlu, gak tahu aturan banget.
Ada yang bilang, suatu komunitas menjadi tidak mematuhi aturan karena kurangnya pendidikan. Faktanya ada di paragraf berikut:
Trip 3, naik motor. Tahu sendiri Bogor, puanasnya, macetnya gat tahu diri. Dan para pemilik kendaraan yang kurang ajar berkepribadian barbar. Gw naik motor dengan kecepatan sedang (40an km/jam) dan sebuah mobil kijang berwarna krem menyalip motor kami dengan kecepatan tinggi dan hanya berjarak 5 meter di depan kami, manusia sial di mobil itu buang gelas air dari karton dengan isinya yang entah apa dengan seenak perutnya! seandainya gw sempat nyatet plat kijang krem itu, pasti udah gw tulis disini, gak tahu aturan! kalo kena orang dijalan gimana??
Yang jalan kaki, yang naik angkot dan yang punya mobil, semua dari berbagai kalangan ekonomi: suka buang sampah sembarangan. Dari jabang bayi gw diajarin ortu untuk buang sampah ditempatnya, kalo lagi dijalan dan gak nemu tempat sampah maka kantongi sampahmu! Orang yang suka ninggalin sampahnya sembarangan, kata dosen gw, dia juga gak pernah nyiram kotorannya kalo make toilet. Najong.
Itulah budaya Indonesia: Menyebar sampah di negeri sendiri.
Gimana cara penaggulangannya? jelas gak bisa ngikutin aturan singapura, buang sampah sembarangan, denda. Kalo di Indonesia ada peraturan begitu, lahan bisnis baru, dosa yang nyampah dimana-mana. Dengan kata lain gak ada solusi, Indonesia tidak tertolong! Biasakan hidup dengan sampah beredar sepanjang mata memandang mulai dari sekarang.
Hal ini seirama dengan anarkisme yang sering terjadi di negeri ini. Sampah masyarakat. Gw gak bakal mendefinisikan yang mana yang sampah masyarakat tapi kalo lokalisasi di bakar, digusur, diobrak-abrik oleh orang-orang yang ngakunya santri di wilayah parung, maka apa untungnya? berdirilah warung remang-remang yang lebih meriah dari pada yang sudah dibakar, digusur dan diobrak-abrik. seolah-olah para pemilik warung punya asuransi untuk warungnya.
Sudah hukum alam eh… hukum ekonomi: selama ada konsumen maka produsen akan terus berproduksi. Jadi yang seharusnya dibakar, digusur dan diobrak-abrik yang yang menjadi konsumen warung remang-remang itu. Kalo gw tinggal disana, gw foto tu orang-orang yang make PSK disana, Gw pasang baliho gede yang isinya para pelanggan maniac itu, biar malu gak dateng-dateng lagi. Tapi, tetap ada tapi untuk semua hal, itu gak efektif juga, karena sudah hukum ekonomi pula, bila pasaran menurun maka modifikasi produk anda, konsumenpun akan kembali dan lagi kalo ada yang ngambil foto di lokalisasi bisa digebukin preman! Selain itu kalo lokalisasi di bakar maka para penghuninya akan gentayangan dimana-mana seperti di rel kereta, di pinggiran kebun raya dimana-mana hiii……. Jadi gak ada solusinya. Kalo gak kuat iman, jangan lewat parung bagi para laki-laki atau kalo harus lewat sana ngebut aja….
Jadi sebenarnya budaya apa yang bisa kita banggakan? keragaman? kita banyak perang etnis, Batik? malaysia punya. Masakan? sebagian besar bersantan dan kolesterol tinggi. Tarian? hanya beberapa yang naik kepermukaan, baju adat? kita mulai kembali ke jaman kartini: pake kemben kemana-mana. Sejarah? gak usah nanya dech, hampir semua sejarah kita adalah buatan. rekayasa. Bangunana jaman kerajaan? banyak yang hancur, dihancurkan, termakan usia dan kerusakan alam. Kita tidak punya kebanggaan. Apa yang harus kita lakukan?
