Nonton berita 2 hari ini sangat monoton. Demonstrasi mewarnai Indonesia seperti 10 tahun yang lalu. 10 tahun lalu gw masih jadi siswa dan dimata anak umur belasan, aksi mahasiswa saat itu terlihat keren…..
Para mahasiswa dengan gagah berani menerjang brikade aparat dan menduduki (dalam artian harfiah) kantor DPR/MPR RI. Memakan banyak korban tewas dari mahasiswa maupun masyarakat dan aparat. Hasil akhirnya adalah sebuah reformasi yang diagung-agungkan mahasiswa pun terjadi namun 10 tahun berlalu keadaan indonesia tak kunjung membaik. Saat ini di mata gw sebagai mahasiswsa, gw malu melihat kasi-aksi yang dilakukan teman-teman mahasiswa, mau mengulang kekonyolan 10 tahun yang lalu?
Semoga tidak. Indonesia pasca reformasi yang berubah hanyalah nama kabinet dan komposisi kabinet namun pada praktiknya tak ada perubahan berarti bahkan reformasi hanya membuat arah pembangunan negeri ini makin tak terkendali. Setiap saat terjadi perubahan kebijakan dan putusan yang pada akhirnya membingungkan rakyat dan tak ada kemajuan besar dalam hal apapun (kecuali dalam hal pembayaran pajak mungkin, tapi entah kemana pajak itu berlari…).
Segala sesuatu butuh waktu dan tenaga namun bangsa ini selalu berteriak ingin hasil instan yang maksimal. Dalam kurun waktu 10 tahun, pucuk pimpinan negeri ini telah berganti 4 kali, berarti telah ada 4 macam keputusan dalam satu masalah, dan satu masalah tersebut dalam kurun waktu 10 tahun telah beranak pinak menjadi ribuan masalah. Itulah makna reformasi: perubahan yang cepat, sangking cepatnya manusia indonesia yang setengahnya masih terbelakang inipun kebelinger mati kutu.
Adalah sebuah fakta bahwa negeri ini tidak siap akan adanya perubahan lebih lanjut. Harga minyak dunia yang melangit membuat rakyat menjerit minta subsidi namun apadaya negeri ini tak punya cukup uang untuk mensubsidi 220 juta penduduknya. BLT menjadi jalan pintas walopun banyak yang menganggap hal ini merupakan pembodohan masa. Di lapangan saya melihat banyak yang terbantu dengan program ini meskipun program ini bukanlah opsi terakhir yang seharusnya dipilih pemerintah. BLT menimbulkan banyak konflik, mahasiswa menolak (alasannya tidak mendidik namun suatu fakta bahwa banyak mahasiswa yang menerima beasiswa yang tidak pantas, dapat beasiswa berarti handphone baru=>masyarakat kecil tidak mempermasalahkan hal ini) sebagai mahasiswa dan masyarakat saya hanya bisa mendukung program ini karena hal ini sudah menjadi putusan pemerintah. Menolak sudah tidak mungkin, saat ini saya hanya bisa mendukung dan menjadi pengamat apakah BLT tepat sasaran atau tidak. Satu kritikan dari saya adalah seharusnya BLT diluncurkan setelah BPS mengerjakan tugasnya mendata rakyat miskin yang perlu dibantu. Bukannya menggunakan data tahun purba yang sudah tidak tepat sasaran itu. Untuk beberapa kasus saya lebih setuju bila BLT diserahkan kepada janda miskin dan atas nama para ibu karena kaum wanita umumnya mempergunakan sumberdaya yang ada untuk kebutuhan keluarga terlebih dahulu.
Kembali ke aksi mahasiswa, buat gw aksi mahasiswa akhir-akhir ini mengecewakan. Mahasiswa UNAS (tidak bermaksud mengeneralisasikan) mengarahkan kelebihan energi dan amarah atas penangkapan teman mereka ke arah vandalisme. Lihat diberita kan? kampus UNAS penuh coreng-moreng cat piloks hasil karya mahasiswa. Menurut gw ini merugikan mereka sendiri, sebulan lagi setelah semua orang bisa menerima kenyataan bahwa harga BBM harus naik, bagian kebersihan kampus UNAS akan mencari dana entah potongan dari pundi-pundi dana mana gw gak perduli yang jelas hasil SPP mahasiswa untuk mengecat kembali semua karya vandal para oknum mahasiswa yang tidak bertanggung jawab. Siapa yang rugi?
Universitas DR Moestopo mengikuti jejak vandal pendahulunya dengan cara melakukan pemblokiran jalan dan menyetop mobil plat merah kemudian mereka mengecat kaca depan mobil pemerintah dengan tulisan yang menurut mereka aspirasi rakyat: batalkan kenaikan BBM => sesuatu yang tidak mungkin terjadi dan seharusnya mereka sudah tahu kenapa. Di berita disebutkan bahwa mahasiswa juga memodif kaca depan kendaraan plat hitam yang kebetulan lewat daerah mereka. Well…… mengecewakan. Mereka penyebab kemacetan, menguras uang rakyat, mobil plat hitam milik rakyat, plat merah? milik pejabat pemerintah berarti yang menanggung uang perbaikan adalah pemerintah dengan uang rakyat tentunya.
Masih dari area kampus Univ. DRÂ Moestopo, seorang polisi diterjang mahasiswa padahal sang polisi hanya kebetulan sedang patroli di daerah sana. Apa kata mahasiswa dan pihak rektorat Univ. DR Moestopo? Dia bukan mahasiswa kami. Enak sekali berkata seperti itu, berarti polisi bisa juga bilang: aparat yang melakukan pelanggaran HAM di UNAS bukan anggota kami. Menurut gw, selagi loe malakukan aksi maka semua orang yang ikut aksi bertanggung jawab penuh akan akibat dari aksi mereka baik itu hasil positif maupun negatif. Kalo memang benar oknum luar yang melukai aparat polisi tersebut maka sudah menjadi kewajiban koordinator aksi untuk bertanggung jawab akan kelakuan masanya karena aksi mereka berhasil ditunggangi berarti mereka telah gagal.
Coba lihat aksi yang dilakukan rakyat kecil pendukung BLT tadi siang di depan istana negara. Mereka rakyat miskin yang minta bantuan negara, mereka melakukan aksi damai, tanpa vandalisme, tanpa menimbulkan kemacetan. Mereka contoh suara masyarakat kecil yang sesungguhnya, yang harus ditiru oleh para mahasiswa yang turun kejalan mengaku peduli pada rakyat.
