Inilah masa yang paling… aku gak punya ide untuk ini, suram ya, senang ya, sedih ya, aneh ya, nano-nano. Biasanya dari sekolah negeri ada yang namanya rayon, jadi misalnya dari SMP X bisa masuk SMA Y, Z, Q atau P. Aku dari SMP 2, rayon SMP ku adalah SMA 2, SMA 1 dan SMA 4 kalo gak salah. Aku malah lolos di SMA 5 yang bukan rayonku, kenapa bisa? Kata orang Bengkulu, SMA 5 adalah SMA yang paling difavoritkan, susah masuk situ jadi kalo diterima ya ambil aja! Guruku yang daftarin aku ke situ jadi ya sudah karena emang gak punya tujuan hidup kujalani saja jalur yang sudah ada. Yang terjadi adalah ???? aku gak punya temen disana hix hix hix… temen SMP ku kalo gak SMA 2 ya SMA 4 atau SMA 1, jadi aku nyepi di SMA 5, ada sich yang dari SMP 2 juga tapi mereka bukan tipe teman yang biasa, maksudnya aku kan biasa temenan sama orang yang rada free style gitu, sementara yang se SMA malah anak baik semua, berbudi luhur dan hobinya belajar, aku???
Aku mengalami tekanan persaan selama minggu-minggu pertama sekolah, gak cocok pergaulan gitu. Karena tekanan itu aku jadi males ikutan ekskul apapun, beda banget sama waktu SMP. Berhubung ikut ekskul wajib hukumnya, maka aku memilih klub komputer sebagai kegiatan diluar akademikku. Klub komputer adalah sebuah klub yang mempelajari seluk beluk komputer dan pemrograman, tapi karena aku gak serius maka hasil akhirnya adalah aku sangat ahli dalam game Empire II, stronghold crusader dan beberapa game RPG yang ada di ruang komputer itu. Herannya, walopun gak pernah ngerjain tugas yang diberikan instruktur, diraport aku selalu dapat nilai A
Senenarnya aku pengen lanjutin kegiatan renangku, tapi di SMA 5 gak ada klub renang jadi yah lupakan impian ikut renang di olimpiade manapun di dunia. Agak aneh juga kenapa aku bisa ada di klub komputer, soalnya anak yang masuk klub ini adalah dari jenis yang hobi belajar, aku???
Prestasiku di SMA tergolong menengah ke bawah, maklumlah belajar bukan hobiku. Aku sempat heran dengan beberapa teman SMP ku yang pada sibuk di sekolah barunya, rata-rata mereka melanjutkan kegiatan yang biasa mereka lakukan di SMP, yang pramuka lanjut pramuka, yang paskib lanjut ke paskib, yang PMR masuk PMR, dan aku merasa ditinggalkan sendiri. Sedih bangetttt… Karena bete terus, ibuku yang udah pusing ngeliat anak gadisnya yang biasa jarang di rumah jadi berkarat di rumah terus, beliau menyarankan aku main-main ke Perpusda aja. Perpusda?? Ngarang nyokap guwwehh… Tapi karena gak ada kerjaan akhirnya dijalankan juga. Awal masuk situ serem banget, di sana, di jajaran lemari tinggi, di antara tumpukan buku-buku, manusia adalah makhluk langka!!! Ada beberapa ruangan besar di Perpusda Bengkulu, tiap ruangan merupakan bagian buku tertentu, semacam tema bacaan. Pertama kali aku masuk ruangan yang banyak buku ilmu pengetahuannya, isinya mollusca, Arachnida, perbankan, ekonomi dsb, bete! Satu jam pertama, langsung pengen pulang, namun ketika melewati satu lorong yang penuh debu, aku jadi penasaran buku semengerikan apa yang ada disana?? Ternyata novel berbahasa Inggris. Berhubung hanya itu yang menarik, ya kupinjam saja. Aku baca macem-macem novel yang merupakan karya sastra terkenal seperti 21000 ligue under de sea-Julles Verna, Huck Finn, Tom Sawyer, Dracula-Bram storker dll, lumayan juga nambah vocab. Setelah beberapa lama aku malah nemu komik disana, novel bahasa indonesia juga banyak sampe akhirnya ruangan yang ada komik Cuma boleh dimasuki anak SD, Bete, males dech ke Perpus lagi.
Kelas 2 SMA adalah masa-masa persahabatan. Aku mulai dekat dengan teman-temanku, aku punya 6 sahabat saat itu, Hasnaini calon dokternya UNAND(Sebangku nih nyaris 3 tahun, di tahun ke-3 sempet marahan gak jelas, jenuh kali ya? Gak ada masalah apa-apa sich sebenarnya, dieman aja selama beberapa hari), ada Restu dan Gusti yang sekarang di STT Telkom, Arta yang sama-sama masuk IPB (sempat satu bangku selama beberapa minggu di kelas 2), Rike sarjana komunikasi UNIB nih…, Rini calon Dokter UNPAD. Kami berlima punya kisah layaknya novel remaja, ketawa bareng, nangis sama-sama, punya masalah intern, ada masalah cinta dan masalah gak penting lainnya. Ada satu chapter lucu tentang Arta, dia ngefans banget sama anak kelas 3 yang bernama Indra, sangking ngebetnya, dia buat perkamen sepanjang 3 meter (mungkin) yang isinya macem-macem untuk dikirim ke kakak tampannya itu, yang intinya semacam surat cinta. Sebenarnya kalo sebagai sahabat baik, seharusnya kami melarang Arta untuk mengirim surat-buang-harga-diri itu, tapi Rike, Restu, Rini sudah mendukung, aku awalnya agak gimana tapi akhirnya ikut mendukung, Hasna abstein (Sebenarnya dia gak setuju, memalukan tampaknya…) sedangkan Gusti menganggap hal itu bodoh jadi dia gak peduli. Surat cinta bermeter-meter itu diserahkan dan dibalas pada hari yang sama, hanya dengan secarik kertas robek dan tinta macet yang pada intinya sang kakak tampan menyukai surat itu dan minta dikirimi surat seperti itu lagi
orang aneh…
Naik kelas 3, persahabatan kami retak, aku gak berhasil menemukan catatan yang menyebabkan keretakan itu, sepertinya faktor pada akhirnya kami pisah kelas atau apalah aku gak berhasil menemukan jurnalku saat kejadian itu berlangsung. Aku dan Hasna masuk IPA 2 sedangkan Rike, Restu, Rini, Arta, dan Gusti di IPA 1 (Unggulan nih). IPA 2 adalah kelas kacau, bayangkan hampir separuh kelas pernah di panggil ke ruang BP karena berantem sama anak kelas 1!!! Kami menghiasi dinding kelas dengan poster musisi rock dan boyband (sempat ada Britney Spears malah) yang akhirnya diturunkan dengan paksa oleh dewan guru, sering ada jam kosong yang berarti kelas akan ribut oleh suara musik, sorak-sorai para cowok main bola di depan kelas, ada yang main scrabel, main poker, main catur dan selalu ada taruhan bola di bagian belakang kelas. Walaupun kacau, kelas kami adalah kelas toserba, ada jenius basket(bahasanya…), ada raja ngopek (ngeliat buku kalo ujian), ada gigolo, ada putri solo, ada bandar judi, ada tukang cari duit, ada ahli komputer, ada ahli jayus, yang pada akhirnya membuat kelas kami menjadi raja festival.
Kenapa raja festival? Karena kelas kami selalu menang pada lomba apapun yang diadakan di sekolah! Tim basket kami juara 2 satu sekolah (kalah lawan IPS 1, saudara tua kami), jelas kalah, dikelasku Cuma ada 3 pemain basket, yang dua cadangan dan 1 MVP (katanya…) si Ipul (kabarnya di IBL sekarang, tapi aku gak pernah liat, yang ada Riko Hantono idolaku), jadi yang masukin bola si Ipul mulu, yang 4 pajangan di lapangan, si Apex malah Cuma jadi penarik perhatian cewek-cewek, maklum gigolo (sori bro, bukan maksud). Kami juga menjuarai pertandingan catur, satu olah raga lagi apa gitu, dan juara 2 panggung kelas padahal gak ada persiapan apa-apa, beda banget sama IPA 1 sang juara yang udah latihan manggung dari jaman Pleistosen. Puncaknya adalah kami menjadi juara 2 liga cendana (sepak bola), lagi-lagi kami dikalahkan saudara tua IPS 1, skor pedih 6-1 (rumor yang beredar, satu gol kami merupakan gol persaudaraan, bolanya di kasih lewat gitu
), karena sering menang lomba, kelas kami menjadi kelas yang paling kaya karena banyak uang, belum lagi hasil danus yang sering kami lakukan. Inilah sebabnya aku mengatakan kalo si Apex itu gigolo. Masa dia jual brownis yang biasa sepotong 1000 jadi 7000?! Katanya sich, Apex tuh banyak penggemar, sejenis kakak tampan lah… padahal dia kan… (gak enak ah…
).
Di kelas 3 inilah aku kembali menjadi abnormal, suka bolos (padahal kelas 3! Karena itulah nilaiku bagai menukik tajam), males bro…, kalo ujian gak pernah belajar, nyontek terus bahkan kalo ujian PPKN aku gak ngerjain, temenku si Killing yang ngerjain buatku, jadi nilai PPKN ku adalah nilai Killing, aku sich tidur jam PPKN
. Paling ngerjain ujian kalo bahasa Indonesia atau inggris, abis anak cowok pada gak bisa ngarang. Bahkan kebiasaan males baca soal berlanjut hingga UN, tahu gak sich?? Waktu UN aku hanya membaca beberapa soal, kalo udah bisa jawab 40% soal, sisanya tembak jenggo, terus pulang, nonton NBA. Alhasil, kalo nilai UN jadi syarat masuk Universitas tertentu, maka aku gak lolos mana-mana, untungnya aku sekolah di SMA 5 yang katanya favorit itu. Biar kata nilaiku di kelas jadi Kuncen (kelas 1 dan 2, aku masuk kelas unggulan gitu), gak pernah ada tuh angka 6. Maka dari itu, syarat USMI IPB hanya mencantumkan nilai sampai akhir kelas 2, jadilah aku mahasiswa undangan ke IPB.
Ketika kelas 3, aku mulai memikirkan apa sich sahabat itu?? Jawabannya aku gak tahu apa sampai saat ini. Menurutku, yang paling penting adalah berteman sebanyak-banyaknya, jangan terkungkung oleh satu klik tertentu sehidup semati, sepi dunia. Tapi aku masih sangat dekat dengan 3 teman SMA ku sampai saat ini, yaitu Hasnaini (3 tahun sebangku gituh), Misda sang pegawai Depag, dan Santi sang master komik, mereka selalu memberiku coklat dalam setiap kesempatan. Kadang aku heran, apakah aku begitu terlihat seperti penggila coklat?? Aku lebih gila kopi sebenarnya, tapi coklat enak juga apalagi kalo gratis.
Di SMA aku ketemu lagi dengan Reni, teman baikku waktu TK (yang nyebur kolam kura-kura itu loch..). Waktu ketemu pertama kali dia langsung mengenali aku sebagai Alin, tapi aku gak inget dia sama sekali!! Dan dia juga gak mau ngingetin aku, jadi aku nebak-nebak sendiri yang akhirnya inget setelah ibuku cerita kalo beliau bertemu ibu Reni di pasar (biasa tempat ngumpul para ibu). Waktu TK, reni anak baik, pendiem dan pintar seingatku. DI SMA kerjaannya pacaran terus, kemana-mana berdua cowoknya seolah-olah dunia milik berdua yang lain ngontrak. Jadi kalo ketemu sebatas say hi aja


Posted by Hasnaini on Agustus 18, 2008 at 2:11 pm
hahaha… SMA yang aneh jeng Alin. Ngapain masuk smunlie…
Posted by alin on Agustus 18, 2008 at 3:16 pm
Yah begitulah jeng Nunun, gak ada tujuan hidup tampaknya. Jeng Nunun gimana kabar perahu?
Posted by jeng Nunun on Agustus 20, 2008 at 3:16 pm
kabar perahu maksudnyo ? am lupo lin perahu apo sih lin??
Posted by alin on September 1, 2008 at 8:04 pm
ntahlah nun ambo lupo, mungkin gara-gara arta, analoginyo cx iko:
Anal => Kanal => Kano => Perahu…
Kalo ambo lebih suko oposit sih, oral misalnyo, cuma kan agak-agak cx mano…