Menurutku, masa SMP adalah masa yang paling berwarna. Di sana aku punya cita-cita, ambisi dan rasa percaya diri. SMA sampai sekarang aku gak punya semua kualifikasi itu. SMP 2 Bengkulu adalah tempatku menimba ilmu selama 3 tahun. Kalau dari segi akademik, kelas 1 dan 2 sangat mengecewakan, angka 6 bertaburan bagai dedaunan kering di musim gugur, sebengal-bengalnya jaman SD, aku gak pernah nyicipin angka 6 sama sekali. Mungkin kebanyakan ikut ekskul dan jalan-jalan jadi gak punya banyak waktu untuk belajar dan membaca tapi aku baca banyak komik dan novel, kalo untuk 2 hal itu selalu ada banyak waktu.
Semasa SMP aku ikut ekskul pramuka, menyenangkan sekali masa pembekalannya dan teman-teman serta senior yang bersahabat. Aku ikut Paskibra, menurutku ekskul yang satu ini rada lebay. Terlalu menjunjung tinggi senioritas, terkadang terlalu kaku dan disini sangat ditanamkan kebanggan yang terlalu berlebihan terhadap diri sendiri karena aku adalah seorang pengibar bendera!!! Tidak terlalu menyenangkan. Aku ikut klub renang di kelas 2 dan berhenti ketika menjelang UAN SMP yang crusial itu. Kenapa aku bisa nyasar di klub renang? Karena aku jatuh cinta pada pemandangan di hotel horizon tempat klub renang berlatih. Kolam renang hotel tersebut berada tepat dipinggir pantai, dari kolam kita bisa melihat pantai dari samudra hindia hingga batas cakrawala dibingkai oleh pucuk-pucuk pohon cemara yang membuat pemandangan menjadi sangat eksotis. Selain itu ada anggota klub, kakak kelasku yang keren banget eyecatching gitu. Itulah salah satu sebab kenapa aku bisa sangat teratur ke kolam hampir tiap hari gak peduli kulit hitam dan rambut rusak, beda banget kalo mau latihan baris buat paskib atau pramuka. Waktu pramuka aku pernah disuruh lari-lari karena gak hafal dasadarma padahal udah kelas 2, so what?? Jaman sekarang siapa yang peduli dasadarma? Kalo renang gak ada tuh senioritas atau hafal-hafalan, yang ada stamina dan kegigihan, masalah mental biar alam yang membangun!! Lebay…
Akhir kelas 2 SMP adalah satu titik dimana aku belajar tentang makna hidup dan menghargai kehidupan. Sekitar pertengahan tahun 2000, Bengkulu diguncang gempa dengan kekuatan 7.2 pada scala Richter. Rumahku termasuk yang dilewati episentrum gempa tersebut, bisa dibilang keluarga kami kehilangan rumah tinggal, untungnya kami semua selamat, itu yang paling kami syukuri hingga saat ini. Awalnya agak sulit menerima keadaan tersebut, selama tiga hari kami numpang tinggal di rumah tetangga hingga dapat rumah kontrakan. Karena peristiwa inilah aku mulai mengurangi keabnormalanku, pada saat itu semua orang mengatakan bahwa rumah yang hancur berarti penghuninya mendapat hukuman Tuhan. Jelas aku bukan orang yang berhati suci, tapi hukuman Tuhan? Awalnya terasa seperti itu tapi lama kemudian aku menyadari dan memahami kata-kata ibuku, jangan pernah berburuk sangka pada Allah, rumah yang hancur adalah hal lain, toh setahun kemudian rumah kami berdiri lagi atas izinNya bahkan bisa dibilang kehidupan kami jadi jauh lebih baik dari pada sebelumnya baik fisik maupun spiritual. Mungkin itu yang dinamakan berhasil melewati ujian dan naik kelas.
Aku kanal beberapa orang yang cukup menarik di SMP, ada yang namanya Suwesti, dia anak pintar tapi sayang seperti umumnya anak pintar dia rada egois dan semaunya. Agak menjajah temannya karena menganggap dirinya lebih baik. Tapi dia teman yang cukup menyenangkan dan lucu juga, dia penggemar BSB dan setiap malam berdoa agar bisa ketemu Nick Carter. Amin. Temanku yang lain bernama Dasmi. Dia ini anak baik yang suka menolong, teman bergosip yang menyenangkan dan juga lucu karena selalu menganggap dirinya adalah pacar Aaron Carter, dia masuk paskibra dengan alasan yang sama seperti aku masuk klub renang, hatinya terpaut pada kakak kelas yang namanya Egi, muka Egi kan aneh… rada idiot gitu, sori bro… bukan maksud…
Aku mulai merasakan klik yang tidak menyenangkan waktu kelas 3 SMP. Aku sebangku dengan Kartika, kalo ujian kami sering contekan gitu dan satu kali secara tidak sengaja nilaiku lebih tinggi 0.25 dari pada Kartika, apa yang terjadi? Dia gak tegur aku sampai beberapa minggu!! Parah tu bocah, tahu begitu aku gak mau ikut ujian aja. Dari situ aku gak pernah contekan lagi, kapok ceritanya. Tapi entah kenapa semenjak berhenti contekan, nilaiku meningkat drastis, mungkin itulah yang disebut Putri Huang Zhu sebagai indahnya sebuah kejujuran…
Di SMP aku ketemu dengan Indah, sebagai teman secara personal dia baik. Tapi sisi lainnya agak suram, pergaulannya rada menyimpang, suka cari sensasi dan masalah. Kalo menurutku sich dia Cuma cari perhatian, biasalah anak ABG mencari jati diri dan salah jalur padahal dia pinter lho… karena temenan sama indah ini, acara bolos sekolah jadi lebih berwarna. Kalo TK bolos karena bosan terus main ke sawah, SD bolos kalo gak buat PR, SMP bolos buat kelayapan ngukur jalanan. Karena ada satu kasus yang melibatkan polisi, akhirnya aku gak bisa bolos lagi dan ortu jadi ekstra hati-hati memperhatikan orang yang bergaul denganku. Berakhirlah petualangan liarku di SMP dengan menghabiskan satu caturwulan terakhir di SMP bersama buku pelajaran dan sebagai hasilnya, nilai UAN ku masuk jajaran 20 besar satu sekolah! Dari 400 siswa diangkatanku loch…!!! Jangan tanya kenapa bisa, sepertinya itu prestasi akademik terbaikku.


Posted by tomy on September 30, 2008 at 5:44 am
maap nih mba’,, masuk smpnya taun brapa?? saya jg pernah skolah disitu kalo ga salah….